Suara nenek moyang Nusantara

Paul Stange

Lembaga Kajian Islam dan Social
Yogyakarta
2009

DAFTAR ISI

bab 1 PANDANGAN LINTAS BUDAYA 1

Garis besar perkembangan 11
Ekologi kawasan inti (core) dan wilayah (zone) 16

bab 2 PRIBUMISASI PERSPEKTIF 29

Menuju sejarah otonom 31
Pandangan pribumi 36
Penemuan tradisi 42

bab 3 LAPIS BAWAH PRIBUMI 51

Lapis bawah sebagai bingkai 52
Agama purba 67
Animisme sebagai landasan 76

bab 4 KOSMOLOGI PEMBENTUKAN NEGARA 86

Jaringan maritim dan asal-usul kesukuan 87
Ciri-ciri negara di kawasan inti 93
Jenjang kejiwaan bertingkat 100
Pribumisasi mitos asing 108

bab 5 JAGAT KEAGAMAAN TRADISIONAL 128

Pungkasnya perniagaan Eurasia 130
Munculnya pola kawasan wilayah 145
Langgam agama dunia 160
Perbandingan kelembagaan 175

bab 6 PENYESUAIAN TERHADAP MODERNITAS 187

Globalisasi kapitalisme industri 189
Komunitas yang terkurung 198
Reformasi keagamaan skriptural 207
Kemerdekaan rohani 217

bab 7 PEMBENTUKAN IDENTITAS NASIONAL 240

Ideologi neotradisional 241
Politik nilai yang bersaing 251
Politik penyatuan dan penataan 264
Sekat-sekat dalam wacana keagamaan 272

bab 8 MASA LAMPAU DALAM KEKINIAN 290

Modernisme sekuler dan revivalisme puritan 293
Berlanjutnya ortodoksi sinkretis 301
Klenik dan Kebatinan 308

bab 9 GEMA LAPIS BAWAH 325

BIBLIOGRAFI 330

------------------------------------------------------------

PESANAN PENTING KEPADA REDAKSI---

Seperti saya terangkan dalam pengantara dan juga beberapa kali melalui catatan kaki saya sengaja 'main' dan mengganti/menukar istilah wilayah, suku, kerajaan, negara, dan bahasa. Tolong jangan sekali-kali menggunakan 'change all' dengan semau istilah yang demikian. Umpamanya dilakukan demikian akibatnya pasti akan menghilangkan makna yang penting demi pandangan sejarah yang saya memajukan disini. Pesanan ini menyakut ketidakseragaman seperti: Birma, Burma, Myanmar; Tai, Thai, Thailand, Muongthai dan kasus lain yang demikian. Setiap penggunaan disini sudah saya kontrol dan membawah makna walaupun mungkin bertentangan dengan kamus dan kebiasaan. Sebaliknya seumpamanya mau mengganti Budis dengan Buddis atau Buddhis (tapi jangan menghilangkan perbedaan 'Budi/Budisme' atau India/Indis/ Hindu); Sanskerta dengan Sanskrit atau Sanskrita terserah--tetapi tolong berhati-hati didalam setiap kasus, jangan merobah semua seketika.

Terima kasih sebelumnya, karena penting; maklum dengan demikian saya tidak mempermudah! Kemudian catatan ini dihapus....

Paul Stange
----------------------------------------------------------------
PENGANTAR PENULIS

Sajian naskah ini disembahkan sebagai pengantar sejarah budaya nusantara. Disini saya merujak pada pemahaman analitis melalui tekanan pada bingkai proses, kepada pola perkembangan garis besar wacana budaya agama dan kejiwaan. Setiap peralihan didalam tatanan sosial nusantara terkait erat dengan pembaruan yang terjadi melalui penyesuaian sosial dan budaya dengan jalinan komunikasi. Tahapannya mulai di landasan pribumi kemudian melalui pembentukan negara kuno, tatanan lembaga tradisional, penyesuaian dengan alam industri modern, tumbuhnya negara modern, dan sampai kepada keberanekaan pola agama yang masih nampak.

Pada setiap tahap, perkembanganya terkait erat dengan peralihan didalam komunikasi didalam arti luas. Makna dari 'komiunikasi' disini tidak dibatasi kepada pengertian mengenai hubungan teknis, seperti umpamanya peralihan dari jalan berbatu dan kapal layar buatan kayu kepada jaman telefon, ril kreta api, pesawat, TV, dan internet. Komunikasi sekaligus terkait peralihan bahasa, dari bahasa kesukuan melalui bahasa-bahasa yang berasal dari luar. Pada tahap kerajaan lama pengaruh perbendaharaan Sanskerta masuk dimana-mana. Kemudian bahasa Arab, Pali, Portuges, dan akhirnya Inggris menyumbang kosa kata disertai pemahaman baru kepada bahasa nasional yang sekarang berkembang.

Disampeng alat teknis dan wacana bahasa, komunikasi sekaligus terkait dengan tatanan sosial: susunan suku atau kasta, hubungan desa dengan kerajaan, dan masuknya ekonomi keuangan sampai ke plosok desa. Pada setiap langkah, mengikuti garis besar perkembangan, ternyata ada perobahan sekaligus didalam nusantara, dalam hubungan diantara wilayah-wilayah di nusantara, maupun didalam keterkaitan diantara masyarakat local dengan jaringan dunia. Dengan setiap langkah orang Asia Tenggara menjejeki cakrawala yang semakin luas.

Pada saat yang sama didalam setiap langkah saya menawarkan bahwa kita harusnya selalu memandang proses dari dalam, dari sudut pandangan pribumi atau arus bawah. Biasannya didalam buku sejarah tekananya jatuh kepada permukaan proses sejarah, kepada kejadian agung dan tokoh terkemuka. Dengan demikian kita dengan mudah lupa bahwa, pada setiap saat dan kejadian, yang bergerak dibawah dan selalu melandasi perkembangan adalah rakyat kecil di desa. Mereka jarang bersuara didalam sejarah umum, disana proses politik kekuasaan dan kenegaraan boleh dikatakan menyipu perhatian kita. Kepentingan dari sudut pandangan pribumi didalam sejarah tidak dibatasi keberadaan mereka, yang memang harusnya diperhatikan. Sekaligus pada setiap langkah mereka, bersama elit lokal, mempengaruhi, membentuk kemungkinan, dan memilih (dari niat lokal) jalur-jalan.

Timbal-balik dialektis diantara pengaruh luar, elit sosial lokal, dan suara umat awam harus selalu diingat sebagai proses dua jalur yang hidup. Sama halnya kalau kita mengalih pada arus waktu didalam sejarah. Mustahil kalau kita lupa dan kurang memperhatikan kelangsungan dari pola awal didalam perkembangan kemudian. Padahal sulit dilaksanakan karena permukaan sejarah selalu akan mengarahkan perhatian kepada 'yang baru'. Dengan demikian kita mudah terglintir, mudah lupa bawah 'yang dulu' masih hadir pada saat kemudian. Dengan demikian yang saya maksudkan disini dengan 'suara nenek-moyang' adalah bahwa orang maupun pola dari dulu masih bergema didalam warisan yang mendarah daging didalam keturunanya.

Sasaran--

Dengan demikian kajian ini jelas ditujukan pada peminat tertentu. Karena tekanannya kepad 'pola' buku ini tidak akan memuaskan mereka yang cari 'ceritra'. Bagai sejarawan yang telah lama belajar tidak ada 'informasi' tambahan. Hampir semua kejadian maupun pola yang tercatat disini termasuk pengetahuan umum, sudah diketahui. Bagai mahasiswa barupun mungkin demikian. Sumbangan ini lebih mengarah pada 'ungkapan' yang bersifat sosiologis sekaligus 'argumen' mengenai kepentingan dari sudut pandangan pribumi didalam proses sejarah. Manfaatnya demi mereka yang berniat mengembangkan kerangka pemahaman yang analitis yang mendasar.

Memang kerangka yang terdapat disini bersifat sangat umum dan mendasar. Naskah ini dikembangkan pada semula sebagai buku kuliah yang telah saya pakai sepanjang tiga dosawarsa sebagai dosen kajian sejarah Asia Tenggara di Australi. Maksudnya sebagai pengantar. Makanya para pembaca yang sudah lama terjun di lapangan ini hanya akan tertarik pada 'argumen'. Saya selalu berusaha menerangkannya segamblang mungkin, melalui kosakata umum, bukan istilah yang muluk. Sekaligus saya menerangkan pola analitis yang mendasari kajian sejarah budaya dan agama. Didalam setiap bab terdapat pengertian antropologi agama maupun keterangan jalinan sejarah umum. Dengan demikian saya mengharap para pembaca akan diperkenalkan dengan istilah, masalah, dan cara ungkapan yang meladasi penelitian mengenai nusantara.

Berbareng dengan tujuan itu saya menggunakan catatan kaki dan daftar pustaka yang merujuk pada kajian 'klasik' didalam kajian Asia Tenggara. Mengingat bawah 'informasi' yang tercantum bersifat umum, jarang ada hal yang harus 'dibuktikan' melalui sumber. Terkecuali kutipan dan beberapa rincian informasinya sudah cukup umum. Tetapi saya menggunakan catatan kaki supaya proses dan masalah yang diungkap bisa dikaitkan dengan mudah dengan publikasi yang terkemuka (kendati banyak yang belakangan belum tercantumkan). Dengan demikian disampeng pengenalan pada gejalah dan pemikiran analytis disini terdapat pengenalan dengan cikal bakal kajian nusantara maupun antropologi agama.

Masalah istilah--

Saya sudah berulang kali menyebut 'nusantara', terkadang diganti 'Asia Tenggara'. Seperti akan dijelaskan nanti, saya sengaja 'bermain' dengan istilah. Permasalahan ini mendasari pemahaman. Memang secara umum istilah 'nusantara' biasanya hanya dikaitkan dengan kepulauan Asia Tenggara, dengan Malaysia, Indonesia, dan Filipina.
Disini saya menggunakan istilah itu sebagai sebutan untuk keselurhan dari Asia Tenggara, sebuah wilayah yang sekarang juga disebut ASEAN.
Tetapi kalau kita membentuk pengertian melalui istilah yang baru mulai diketahui belakangan, gambaran kita akan terpengaruh. Semua yang 'dulu' akan dibaca melalui 'sekarang'.

Makanya saya tawarkan 'nusantara' (tanpa 'N' besar) sebagai imbangan. Istilah itupun berasal dari luar, sebagai sebutan Sanskerta pada masa klasik. Inipun tidak mungkin dihindar--tidak mungkin ada sebutan buat apapun sebelum diketahui sebagai 'kesatuan'. Pada saat yang sama istilah 'agama' berasal dari Sanskerta dan 'adat' dari Arab. Kedua istilah induk itu boleh juga diperdebat, tidak perlu dipandang sebagai 'sesuatu' yang kekal. Sebagai sarjanawan kita semua seharunya diajak 'mempersoalkan' permasalahan didalam pengetahuan yang mendasari pengertian umum. Memang dengan demikian kita sering dituduh 'mengaburkan' daripada 'menerangkan' masalah. Tidak dapat dihindar kalua kita menuju pada pemahaman yang halus dan tajam.

Sangat mungkin seorang redaksi, dari sudut pandangan penggunaan istilah menurut aturan yang sjah dan umum pada saat ini, akan merasa bahwa seharusnya istilah nusantara, nanyang, Indo-Cina, Asia Tenggara, dan ASEAN (semua telah digunakan sebagai sebutan demi wilayah yang sama) seharusnya diratakan, disatukan supaya seragam demi 'jelasnya teks'. Umpamanya kejadian sebagian besar dari makna teks ini akan hilang. Karena disini saya mulai dengan pandangan bahwa yang sekarang disebut 'Asia Tenggara' berupa hasil dari proses sejarah. Bukan sesuatu yang abadi dan memang tidak pantas dipikir sebagai 'sesuatu' pada tahap awal dari sejarah. Makanya saya sengaja mengambangkan dan menukar istilah.

Masalah yang sama menjadi semakin jelas kalau dilanjutkan pada nama-nama suku, bahasa, kerajaan, dan negara. Tidak ada satupun 'negara' Asia Tenggara yang 'ada', didalam makna sekarang, pada jaman prasejarah. Perbatasaan negara yang sekarang berlaku (di seluruh dunia, bukan hanya di wilayah kita disini) hanya dimungkinkan melalui teknologi modern dan baru 'terjadi' kurang lebih seratus tahun yang lalu. Padahal para sukubangsa pun belum ada, didalam makna yang berlaku sekarang, pada prasejarah.

Yang sekarang disebut 'Inggris' berupa perpaduan diantara orang-orang dan bahasa yang diperkembangkan melalui sejarah panjang. Secara etnis orang Celt (yang masih di Scotlandia, Irlandia, dan Wales) dulu menguasai kepulaan itu tetapi kemudian dicampuri anasir Roma, Perancis (Norman; merekapun kecampur Skandanavia), Viking dan sebagainya. Sama halnya dengan hampir semua suku yang kita ketahui. Yang paling terasing didunia, suku Aborigin di Australi, diperkirakan sudah ada disitu dan agaknya terasing mulai 50,000 tahun yang lalu. Padahal merekapun tidak sepenuhnya terkurung dari dunia luar. Pertukaran secara lamban diantara mereka dan Masyarakat Melanysia (Papua Nugini, Irian Jaya, kepulauan Solomon) dan Melayu-Polynesia (nusantara dan Lautan Pasifik) pasti terjadi.

Kalau diterangkan demikian jelas wilayah nusantara, yang selama paling sedikit tiga ribu tahun dijejaki nelayan asli yang selama itu telah menguasai lautan India dan Pasifik, pasti mendekat contoh Inggris daripada contoh Aborigin. Paling sedikit, didalam masa sejarah yang kita ketahui, ada pasang surut kesukuan yang jelas. Pada awalnya sejarah semenanjung masyarakat Mon berkuasa diwilayah yang sekarang disebut Muangthai yang dikuasai orang yang sekarang berbahasa Tai--kata untuk keluarga bahasa, bukan 'Thai', yang berarti orang sekarang yang berupa warganegara negara 'Thailand' (bahasa Inggris) yang di Indonesia lazim disebut 'Muangthai'. Nah, didalam keselurhan dari naskah ini saya sengaja menjaga supaya membedakan diantara 'Tai', 'Thai', 'Dvaravati', 'Thailand', 'Ayuthia', dan 'Muangthai'.
Memang mustahil kalau diseragamkan.

Contoh ini mungkin mencukupi sementara, kelanjutannya melalui keseluruhan dari buku ini. Demi pemahaman mengenai 'terjadinya' para suku, bangsa, dan negara yang sekarang 'menjadi' bagian dari wilayah nusantara jelas berupa hasil dari dan proses utama didalam sejarah yang kita jejaki--bukan identitas yang 'mendahului sejarah'. Namun demikian kita disini menjejaki tanah licin dan pantas melatih daya cipta yang lincah. Dari satu sisih setiap suku dan rumpun bahasa telah berobah melalui 'conditioning' melalui sejarah; dari sisih lain masih tetap berakar lama dan di pada unsur tertentu meneruskan warisan nenek moyang.

Riwayat naskah dan pengakuan--

Sebagai gagasan naskah ini mulai diciptakan melalui tugas saya sebagai pengajar tingkat dasar sejarah kebudayaan nusantara. Sebagai citra sudah matang pada 1985; sebagai buku kuliah 1990. Kemudian diperpadukan dengan sumbangan saya"Religious Change in Post War Southeast Asia", sebagai bab didalam The Cambridge History of Southeast Asia (1992). Sumbangan itu menjadi landasan dari bab 7 dan 8 dalam karya ini. Teks bahasa Inggris kemudian telah dipakai dalam pengajaran saya di Universitas Murdoch, Australi Barat, sampai saya pensiun pada penghabisan 2003. Di Murdoch saya berhutang kepada mahasiswa-mahasiswi yang telah mengunakan sambil menyumbang tanggapan selama itu. Disamping mereka berhutang kepada rekan saya disana, khususnya Jim Warren dan Anne-Marie Medcalf, yang selama itu mendukung secara moril dengan kepercayaan mereka pada manfaatnya.

Sekarang, melalui pekerjasamaan dengan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) in Yogyakarta, baru berwujud buku umum. Saya berhutang kepada Ahmala Arifin dan para tim redaksi LKiS atas niat dan bantuan dalam proses ini. Versi ini dalam bahasa Indonesia dikembangkan melalui pekerjasamaan yang menyenangkan dengan penterjemah, Chandra Utama. Pada tahap pertama dia yang mengalih bahasa dengan pemahaman, irama, dan nada yang memuaskan. Pada tahap kedua saya sendiri mengolah kembali, melalui garapan ulang dalam bahasa Indonesia disertai penyesuaian dan pematangan kerangka. Pengantar ini saya tulis langsung dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian akhirnya saya tanggung atas kekurangan dan kejengkelan yang masih nampak, karena keseluruhannya telah diolah dan diukur menurut keterbatasan bahasa dan pemahaman saya.

Semoga bermanfaat demi para pembaca yang budiman.

Paul Stange, PhD
Yogyakarta
Juli 2009


New: 27 March, 2018 | Now: 29 March, 2018